Assalamualaikum!
Salam sejahtera bagi kita semua.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita. Baik itu sedih, senang, atau menyebalkan. Tapi itu adalah kenangan-kenangan yang mungkin akan kita ingat sepanjang hidup kita, atau bahkan akan kita lupakan begitu saja. Kenangan-kenangan yang sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup kita. Cerita di bawah ini adalah sebuah kenangan yang banyak mempengaruhi hidup saya sampai saat ini. Semoga juga bermanfaat bagi kita semua.
PARAGUE!
Pelan suara Bang Danis menasehati
kami. Suaranya serak tertahan, matanya tak mampu menatap kami. Tapi Bang Danis
tetap mencoba tegar, “Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah berusaha
menampilkan semaksimal yang kalian bisa, kami yang di depan ini sudah bangga
dengan penampilan kalian. Menurut kami kalian masih jadi yang terbaik.” . Deg!
Hati kami miris, sebagian dari kami menangis, sebagian mencoba tabah namun air
mata tetap mengalir deras. Ifa yang ada di belakangku menangis tersedu-sedu,
bersandar di pundakku. Ulhaq yang mencoba tersenyum walau air matanya tetap
keluar. Sementara aku. Dadaku sudah terasa sesak, mataku sembab, ingin rasanya
aku keluarkan semua rasa kecewaku. Aku mencoba tersenyum. Tidak bisa! Akhirnya
kugigit lidahku supaya tidak keluar semua rasa kesedihanku.
Kawan semua
itu bermula saat kami mengikuti lomba TUB-BB tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebelum berangkat Kepala Sekolah dan
perwakilan dari Dispora melepas keberangkatan kami. “ Kami di sini berdoa
semoga kalian diberi kesehatan, ketenangan,dan kekuatan untuk memberikan yang
terbaik untuk sekolah ini pada khususnya dan untun Kota Magelang pada umumnya.”
kata Pak Pandoyo, kepala sekolah kami. Kami tahu apa yang ditugaskan pada kami
tidaklah ringan, banyak orang yang kami libatkan, dan kami tidak ingin semua
orang yang terlibat merasa kecewa. Kata-kata itu membuat kami semangat menuju
perlombaan.
Bus yang
mengantar kami ke Komplek Jati Diri-tempat kami berlomba-melaju cepat melawati
jalan-jalan kota Semarang yang panas dan penuh sesak. Kami menghibur diri
dengan menyanyikan lagu apa saja yang kami tahu. Saat melewati daerah Ambarawa
kami meminta kernet bus untuk menyetel lagu Dewa 19 dari VCD player di dashboard
bus. Kami pun mulai ikut bernyanyi.
“Aku sedang ingin,bercinta karena mungkin ada kamu di sini
aku ingin.”
Kami sampai
di Mess C Jati Diri pada pukul 11.30. Perbedaan suhu sudah kami rasakan sejak
turun dari bus. Dalam beberapa menit saja keringat kami sudah bercucuran.
Ditambah lagi kami menggunakan jaket tebal yang sebenarnya lebih cocok
digunakan untuk menangkal hawa dingin. Dengan keringat yang mengucur deras
penderitaan kami bertambah, kami harus menaiki jalan curam menuju mess tempat
kami menginap dengan barang bawaan yang Masyaallah beratnya.
Mess Jati
Diri tidaklah se-mewah yang dibayangkan. Di sana kami hanya diberi jatah empat
kamar. Padahal kontingen kami seluruhnya termasuk pelatih dan official ada 18 orang laki-laki dan 9
orang perempuan. Berarti 2 kamar untuk perempuan diisi masing-masing 4 dan 5
orang, sedangkan laki-laki harus berjejal-jejal dengan 9 orang dalam satu
kamar. Karena tidak memungkinkan pelatih kami memutuskan untuk menyewa satu
kamar lagi secara pribadi tentunya, sehingga satu kamar berisi masing-masing 7
orang, 6 orang, dan 4 orang pelatih dan pendamping, sisanya tidur dikarpet
karena kuota sudah tidak meungkinkan. Lebih parah lagi tidak ada pendingin
udara di mess kami. Jadilah kami tidur berdesak-desakan dengan setengah
telanjang karena kepanasan. Jika dilihat dari jauh kami terlihat seperti udang
yang sedang diasapi, mengkerut, memerah, dan mengeluarkan cairan-cairan
keringat. Mengerikan.
Biasanya
acara makan adalah yang paling menyenangkan, tapi tidak untuk kali ini. Selain
harus menjaga etika, kami terpaksa memakai jaket yang membuat kami kepanasan
setengah mati, karena ada satu orang dari kami kaosnya yang seharusnya dipakai
saat makan sudah basah tercampur baju kotor lain. “Ya sudah bagaimana lagi dari
pada ada satu orang yang beda lebih baik kita pakai jaket semua.” kata Kak Ifha
dengan yakin.
Di ruang
makan 2 tim kontingen lain sudah menyantap makan malam mereka di meja. Kami
datang paling akhir dan yang lebih menyakitkan, kontingen lain memakai kaos
oblong sekenanya sedangkan kami memakai jaket. Sungguh sangat sakit hatiku,
kami harus berjibaku dengan panas demi menjaga kekompakan sementara yang lain
makan dengan santainya. Saat makan pun keringat kami terus mengucur, bahkan
keringatku sampai menetes di meja makan saking panasnya. Energi dari makanan
yang aku santap tidak dapat aku rasakan karena langsung keluar lagi menjadi
keringat. Hatiku kelu.
Setelah makan kami tidak tahu apa yang akan
kami lakukan. Untuk menghilangkan bosan aku mecoba membuat lagu dengan lirik
yang spontan saja keluar, dan hasilnya cukup lumayan. Kami menyanyi melam itu
untuk menghilangkan stres dan rasa tegang menghadapi lomba esok hari. Begini
kira-kira.
“Malam-malam di Jati
Diri, cuaca panas nggak enak sekali
Mau mandi airnya
mati, bikin hati ini jadi keki
Nggak boleh makan
ini, nggak boleh makan itu
Ada ini itu banyak
sekali, aduh laparnya perut ini
Dari pada bosan
mendingan nyanyi”
***
Hari ini adalah hari pertama lomba,
dimana yang di lombakan adalah tata upacara bendera masing-masing sekolah. Kami
mendapat nomor undi 1. Jantungku berdegub kencang. Kutarik nafas dalam-dalam
lalu aku keluarkan, ku tarik nafas lagi lalu aku keluarkan lagi, begitu terus
untuk menghilangkan rasa nervous.
Kawan, walau sudah tiga kali mengalami hal yang sama demam panggung masih
menyerangku. Tidak hanya aku, Fadel sedari tadi menanyaiku pertanyaan yang
sama, “Nggar, kamu tahu menang kan?” dari pertanyaan itu aku tahu dia demam
panggung. Alumni dan pelatih kami menasihati untuk tetap tenang. “Sudahlah,
kalian pasti bisa. Yakin saja.” Kata Bang Jack. “Tenang semua akan baik-baik saja.” Bang Danis
menghibur kami.
Nomor undi kami sudah di panggil. Kami
bersiap-siap memasuki lapangan. “Pokoknya kalian tampilkan yang maksimal!” kata
Pak Jai pelatih kami. “Tetap semangat, jika semangat kalian pasti bisa!” Pak
Irul menambahkan. Kami memasuki lapangan,gemuruh tepuk tangan menyertai kami,
membuat kami semakin bersemangat. Aku menjabat sebagai pengerek bendera. Aku
berdiiri dengan tenang menunggu giliran, aku pikir aku sudah bisa menguasai
demam panggungku. Ternyata salah. Sesaat sebelum pengibaran bendera, jantungku
kembali berdegub kencang. Nervous
menyerangku. Hampir saja aku tertinggal di langkah pertama, namun aku dapat
menguasai diriku lagi.
Singkat cerita kami bisa menampilkan
semaksimal yang kami bisa. Pelatih,alumni, dan offocial cukup puas dengan apa yang kami tampilkan. Kami kembali ke
mess dengan penuh rasa optimis, dapat menjadi juara di perlombaan ini.
Sesampainya di mess kami melepas dan merapikan atribut lomba kami, karena besok
akan kami gunakan kembali.
Tak ada kegiatan lain setelah lomba
hari pertama selesai. Kami mulai dilanda kebosanan. Tidak ada hiburan sama
sekali. Yang ada hanyalah satu televisi di ruang makan, itupun digunakan oleh
penjaga mess untuk berkaraoke ria dengan tetangganya. Kami tidak tahu harus
kemana cuaca panas seperti memenjarakan kami, mengekang tubuh kami sehingga
malas bergerak. Belum lagi perut kami
sudah keroncongan, padahal sekarang masih jam 10 pagi, dan waktu makan adalah
jam setengah 1 siang. Perut kami serasa ditusuk-tusuk, ditambah panas yang
membuat kami merasa hampir mati. Panas sekali. Berjejal-jejal di koridor mess,
kami seperti korban bencana alam yang ada di pengungsian. Kesamaannya adalah
sama-sama berdesak-desakan, baju minimalis, dan kelaparan. Akhirnya Mbak Avi memutuskan
untuk menelpon Pizza Hut Delivery
saking laparnya. Mbak Avi menekan nomor telpon lalu dari jauh sana terdengar
seorang laki-laki, “Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?”. Akhirnya kami
memesan 3 pizza ukuran sedang. “Terima kasih mbak. Kami antar dalam 45 menit.”
kata laki-laki itu. Canggih dan elegan. Sangat sopan tapi juga meyakinkan. Dan
untuk membuktikan itu, kami benar-benar menghitung 45 menit sampainya pizza.
***
Malam harinya. “Gimana,Bos. Jadi
PKTPKM-nya?” aku bertanya pada Bayu. PKTPKM adalah istilah militer yang
digunakan untuk mengatur siasat di medan perang. Kepanjangannya adalah
Pengamatan Keadaan Taktis dan Pengamatan Keadaan Medan. Tapi bagi kami
diplelsetkan sebagai sarana untuk mencari biodata seorang perempuan dari kontingen
lain dan berfoto bersama. Aku dan Bayu berdebat siapa yang harus mencari dan
berfoto dahulu. Ada 4 orang dari kami yang ingin ikut PKTPKM, akhirnya kami
melakukan hompimpa. Saat melakukan itu kontingen dari Surakarta memperhatikan
kami. “Dasar orang-orang udik!” mungkin begitu isi pikiran mereka. Dalam
hompimpa kami , tidak ada yang menang karena kami berempat terlalu grogi dan
tidak dapat berkonsentrasi. Dan tetap belum ada yang mau memulai lebih dulu.
Tiba-tiba, entah setan apa yang merasuki diriku. Aku memberanikan diri menjadi
yang pertama. Aku dekati kontingen dari Surakarta. Aku nervous. Jantungku berdetak kencang. Tanganku yang memegang kertas
gemetaran. Yang lebih parah, saking groginya, wajah perempuan kontingen
Surakarta menjadi sama semua. Aku mematung. Salah seorang dari mereka
bertanya,”Mau cari siapa, mas?”. Teman-temanku tertawa cekikikan di luar.
Mereka tidak paham akan penderitaan sesungguhnya. Aku mengutuki diriku kenapa
tadi mau menjadi yang pertama. Sekitar satu menit aku diam. Aku dekati seorang
perempuan. Aku berhati-hati dalam memilih kata, karena sekelilingku adalah
orang yang belum aku kenal. “Permisi,mbak. Saya Tinggar dari Magelang. Boleh
saya tulis namanya?”. “ Eh, iya boleh. Tapi buat apa ya?”. Aku bingung.
Pertanyaan itu sangat menjebak, masak aku menjawab untuk adu banyak mendapat
biodata?. “Emm, minta aja mbak buat tambahan kenalan hehehe..”. Aku tulis
namanya di kertas besar-besar, dia sempat heran. “Eh, buat apa ditulis
segala?”. “Nanti mau di ambil gambarnya kok, ini untuk bukti.”. Di kertas itu
tertulis, ‘ DITA SOLO 16 th ‘ dan tandatangannya. Kami pun berfoto
bersama. Ramai sekali orang-orang menyoraki kami seperti ada pengantin baru.
Seteah itu, aku salami Dita, aku kembali berkumpul dengan pesaing-pesaingku.
“Hahaha, bagus bro. Kamu sudah dapet satu.”. Yah, untuk sementara aku unggul
dari yang lain.Kawan, jangan sekali-kali kau coba permainan ini.
***
Malami ini ada acara keakraban di
GOR. Kami bertekad akan memanfaatkan momen itu sebaik-baiknya untuk PKTPKM
kami. Sampai di sana kami diperintahkan untuk membentuk kelompok menurut bulan
lahir. Aku lahir bulan Desember dan mendapat kelompok paling ujung. Aku satu
kelompok dengan Ulhaq yang juga lahir bulan Desember. Aku cukup terkejut karena
di kelompok ini ada perempuan kecil berjaket hitam yang aku kenal. “Eh,ada Mbak
Dita.” kataku sambil tersenyum. Dita membalas senyumku. Dia mungkin masih malu
dengan kelakuanku tadi. Di kelompokku ada yang berasal dari Cilacap, Solo,
Brebes, dan Kendal. Dari Cilacap adalah dua pria mungil. Mereka sangat pendiam
dan berbicara jika di perlukan. Dari Solo adalah tiga perempuan yang tak kalah
mungilnya. Seperti kebanyakan wanita, jika menjadi satu pasti ada saja yang di
omongkan. Dari Brebes seorang pria yang tingginya lebih tinggi sedikit dariku,
dan dia juga pendiam. Dan yang terakhir dari Kendal. Mereka adalah orang-orang
yang istimewa. Tubuh mereka tinggi dan berisi. Rata-rata tinggi mereka lebih
dari 170 cm. Tapi sayang tubuh mereka tidak sesuai dengan cara bergerak dan
berbicara. Hampir semua laki-laki dari Kendal berlagak ‘melambai’, kau tahu maksudku kan? Dan itulah yang membuat mereka
istimewa. Acara diawali dengan berkenalan, dan aku tahu pria dari Kendal itu
bernama Panji. Kami disuruh menulis lagu secara kelompok untuk mencoba
kekompakan kami yang belum kenal lama. Setelah acara selesai kami dipersilakan
kembali ke mess kami.
Di mess kami diberi pengarahan untuk
keadaan besok. Kami diperintahkan untuk tenang agar dapat berkonsentrasi. Dan
akhirnya dengan langkah yang diseret kami masuk kamar dan tidur.
***
Hari ini adalah hari penampilan
terakhir, apa yang sudah kami latih selama 3 bulan akan kami habiskan semua di
sini dalam 30 menit. Hanya itu waktu kami, bagaikan dua sisi koin. Kami
bersiap-siap. Kami yakin. Yakin untuk dapat menampilkan yang terbaik. Dan benar
saja, gemuruh penonton saat kami melakukan variasi. Semangat kami membahana.
Kami tak melakukan satupun kesalahan fatal.
Di luar, pelatih, pembina, official, dan pendamping menyalami dan
memeluk kami. Mereka memberi kami ucapan selamat. Aku lihat Bayu menangis.
Bukan karena kesalahan, tapi karena dia tahu ini hari terakhir kami dapat
berkumpul bersama. Bu Puji menyampaikan rasa terima kasihnya pada kami. Beliau
sangat terharu, sampai kata-katanya terputus karena menahan tangis. Kami
disarankan untuk kembali ke mess untuk beristirahat. Kami berjalan dengan
tenang, sudah tidak ada lagi beban, dan kami optimis untuk menghadapi
pengumungan nanti.
Sesaat sebelum pengumuman masing
masing kontingen dipersilakan untuk menunjukkan bakatnya masing-masing. Kami
memutuskan untuk menyanyikan lagu buatan kami sendiri yang pernah aku ceritakan di atas. Kami
adalah kontingen terheboh. Saat kontingen Kendal maju aku dan Bayu memimpin
teman-teman untuk menyoraki mereka. “Mbak Lala..Mbak Lala..Kami di sini Mbak
Lala..”. Lala adalah salah satu dari tim Kendal. Kami meneriakinya karena kami
tahu wajahnya sangat cantik. Tidak ada kontingen lain yang menyaingi keramaian
kontingen kami.
Saat pengumuman tiba. Juri
membacakan hasil keputusan lomba. Pembacaan hasil sempat diundur satu jam
menjadi jam 2 siang. Juri membacakan petugas terbaik. Mulai dari pengatur
sampai danton upacara kendal yang mendapat juara. Mereka hanya kehilangan
pembaca doa dan protokol. Di mana pembaca doa didapatkan Ojhan dari kontingen
kami dan protokol dari kontingen Solo. Kami khawatir. Semua anggota berdoa agar
predikat juara satu tingkat provinsi yang diraih Magelang dua tahun lalu
kembali terjadi. “Untuk juara 1. Dari ex-Karesidenan,”juri berhenti sejenak,”Semarang”.
Kami diam di tempat. Shock. “Untuk juara 2. Dari ex-Karesidenan Pati”.
Kawan-kawanku mulai menagis. Aku masih diam di tempat, mencoba untuk tersenyum.
“Juara 3 ex-Karesidenan Brebes”
Icha, Fadel, Ifa, Mbak Shinta
menunduk. Mereka menangis sejadi-jadinya. Sementara sisanya mencoba bertahan
untuk tidak menangis. Aku menggigit lidahku agar tidak keluar air mataku. Kelu.
Orang-orang menghampiri kami. Pak Jai, Pak Irul, Bu Puji, Bang Danis, Bang Eba,
official dan suporter mencoba menenangkan kami. Bahkan Ojhan pembaca doa
terbaik tak mampu membendung air matanya saat Pak Jai mendekatinya.
Itulah penyebab awal kisah ini
kawan. “Kalian masih yang terbaik di mata kami, penonton, bahkan kontingen
lain.” Bang Danis melanjutkan.”Jika kalian masih ingin menangis. Menangislah
sekarang. Tapi kalian harus janji, habiskan air matamu untuk hari ini saja.
Besok kalian sudah harus tegar kembali.” Mendengar perkataan Bang Danis, tak
terasa air mata sudah berada di pelupuk mataku. Kugigit lagi lidahku, aku tak mau
ada air mata yang keluar. Tak rela diriku meneteskan air mata setelah apa yang
sudah kami perjuangkan. Yang aku tahu kami tidak kalah. Kami sudah berusaha
sebaik-baiknya. Walau belum mencapai target, kami tahu perjuangan belum
berakhir.
Tak ada lagi yang kami
sesali karena kami tahu bahwa:
“Kita masih...BISA.
Kita masih...BISA. SMANSA...PARA!”
Di sini menang di sana menang. Ku maju terus terjang
rintangan. Tak perlu ragu ataupun bimbang. Yang penting menang, lihat kita
sebagai pemenang. Tak peduli banyak saingan. Hanya kitalah yang layak menang.
Haruslah menang!
Teruntuk sahabat, saudara,
kakak-abang, pelatih, pembina, dan semua pihak yang ikut menyertai perjuangan
kami. Maaf kami belum dapat memberikan yang terbaik. Yang dapat kami berikan
hanyalah sebuah ucapan : Terima Kasih!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar