Mataku mengerjap mencoba memfokuskan pandangan. Terdengar suara gemuruh dari arah atap yang terbuat dari asbes. Hujan. Hujan pertama di bulan Juli. Sedikit demi sedikit ku kumpulkan kesadaranku. Sambil duduk di pinggir kasur kulihat jam menunjukkan pukul 08.15. Awan mendung tidak menunjukkan hari sudah sesiang itu. Keluar dari kamar hanya terlihat Mak Dah, pembantu di rumahku. " Libur, Mas? " sapanya saat melihatku. Anggukan kepala kurasa cukup untuk mengiyakan pertanyaannya. Di luar jendela air tumpah ruah membuat beberapa genangan di jalan. Di depan rumah daun-daun pohon Averrhoa carambola mengangguk-angguk menikmati hujan yang sudah beberapa bulan tak dirasakannya. Udara dingin menyeruak masuk, udara yang sudah lama tak kurasakan dari kota ini. Polusi sudah membuat perubahan besar pada kota kecilku, Kota Magelang.
Suara gemuruh hujan yang konstan dan udara dinginnya menghalauku terus menatapnya dari jendela. Sambil menahan dingin kuseduh secangkir kopi hitam. Aromanya yang kuat segera menusuk hidungku. Rasa hangat segera menjalari tubuhku. Ku pejamkan mataku menikmati sensasinya. Saat ku buka mata di depanku ada sebuah meja panjang dengan beberapa jajanan di atasnya. Di tembok yang baru saja dikeramik itu tersusun berbagai jenis botol air mineral. Bau makanan khas kantin sekolah seperti gorengan, cap cay, dan berbagai lauk pauk menyeruak. Senda gurau, ejekan tentang teman dan guru-guru, obrolan ngalor-ngidul menjadi backsound yang tak pernah dapat lepas dari suasana di sini. Yang perempuan gengsi untuk jajan nasi, diet katanya, tapi menenteng berbagai gorengan dan jajanan lain. Terdengar juga transaksi yang cukup alot dengan Ibu kantin.
" Buk, aku utang sik ya?! "
" Hayo utang meneh! Yang kemaren udah dibayar belum? "
" Udah ni lho, Bu. Sekarang ndak bawa duit e, nanti istirahat ke dua tak bayar. Hahahaha. "
Semua orang di kantin memperhatikan dan tertawa geli. Sebenarnya percakapan yang sudah sering kami dengarkan, entah kenapa masih terdengar lucu. Tanganku masih memegang cangkir berisi kopi hitam tadi. Kupajamkan mataku lagi, merasakan cairan hitam itu memenuhi kerongkongan menuju lambung. Lalu kembali terdengar suara konstan hujan. Ku buka mataku dan aku sudah kembali lagi di sini, di rumahku. Gambaran-gambaran itu, canda tawa, botol air mineral, bau gorengan. Lenyap. Ku tatap cangkir yang mulai kosong itu. Tanganku bergetar. Hanya ada aku di sini.
***
Suhu udara yang dingin ini membuatku malas bergerak. Ku taruh cangkir kopi tadi di wastafel lalu melangkah malas menuju kamar. Hahhh. Ingin rasanya langsung berbaring lagi dengan selimut tebal. Tapi melihat kamar yang berantakan ku urungkan niatku. Mataku beralih ke meja belajar. Di sana bertumpuk buku-buku sisa perjuangan dan berbagai kertas soal. Nyamuk-nyamuk beterbangan saat ku angkat beberapa. Hmmm, sudah saatnya di rapikan.
Sebuah kardus besar kusiapkan untuk menaruh buku dan berbagai soal itu. Cukup sulit karena sebelumnya tidak pernah ku tata dengan rapi. Banyak buku dan kertas yang terselip di sela-sela lemari. Ku pisahkan antara buku dan kertas. Mataku tertuju pada sebuah map yang cukup tebal. Aku tersenyum. Isi map itu adalah tugas saat masa orientasi dulu. Berbagai tulisan essay tentang korsa dan lain-lain. Aku geli mengingat perjuangan menulis essay hingga larut malam tapi isinya hanya berputar-putar. Kiata juga disuruh membuat puisi dan gambar tentang kakak kelas. Betapa bodohnya kami dulu mau disuruh melakukan itu. Aku tertawa jika mengingatnya. Hahaha.
Kertas yang tidak terpakai aku buang. Buku tulis dan buku paket aku tata di dalam kardus. Melihat buku-buku itu teringat betapa gilanya kami saat di kelas.Gambaran gambaran berbagai kegilaan yang pernah dilakukan masa sekolah memenuhi pikiranku. Saat itu pelajaran kimia, guru kimia kami seorang bapak yang masih cukup muda, mungkin sekitar 30-an menuju 40, adalah orang yang sangat halus beliau tidak pernah marah, suaranya lembut tapi lebih sering membu at kami mengantuk daripada mendengarkan. Karena seelalu merasa mengantuk dan bosan kami lebih memilih melakukan kegiatan sambilan. Yang perempuan lebih memilih mengobrol dan bergosip. Yang laki-laki lebih ekstrem. Kami bermain game bola dan kartu poker.
Ampuh memang untuk menangkal kantuk akibat merdunya suara bapak guru. Tapi tentu saja insting seorang guru pasti tahu saat anak didiknya tidak memperhatikan. Dua orang temanku masih asik dengan pertandingan bolanya, pak guru berjalan menghampiri mereka. "Hayo jangan mainan dulu ya." kata pak guru sambil tersenyum. kedua temanku hanya cengengesan, teman-teman yang lain menahan geli. mereka berdua meletakkan stik kontrol. bapak guru pun kembali mengajar. Itu saja. Ya cuma begitu. Heran kami dengan kesabaran bapak guru itu, kami salut. Untuk menghargainya kami melanjutkan permainan. Hahahaha.
Itu hanya contoh dari berbagai perbuatan bodoh dan nekat. Tapi hal hal itulah mewarnai hidup sebagai anak sekolah, menyirami rasa kekeluargaan, menyiangi perbedaan, dan menumbuhkan akar-akar kesan yang sulit untuk di lupakan.
***
Pukul 15.08
Hujan sudah reda kini sinar matahari muncul mengisi celah-celah awan mendung yang tersisa. Cahayanya mengundang burung-burung keluar dari sarangnya menghangatkan tubuh setelah menahan dingin akibat hujan. Kicauan mereka menambah meriah sore ini. Mereka bernyanyi riang sambil minum di kubangan air yang masih menggenang. Ku buka pintu agar sinar matahari dapat masuk dan menghangatkan ruangan yang masih terasa dingin ini. Sinar mentari langsung menghangat kan jari-jari tangan dan kakiku yang terasa membeku karena jarang di gunakan. Ku hirup udara dari luar. Hmmm, terasa nyaman berada di bawah kehangatan sinar matahari sore ini. Ku ambil sepedaku, kuputuskan untuk bersepeda berkeliling sekalian menghangatkan badan.
Ku kayuh sepedaku. Meliuk-liuk menghindari kubangan air yang belum mengering sempurna. Jalanan yang masih sepi mebuatku mengayuh sepeda cukup cepat. Kangen rasanya walaupun masih tinggal di kota ini tapi terasa begitu lama sejak terakhir kali aku memperhatikan seluk-beluk kota kecil tempat lahirku ini. Sepanjang jalan para pedagang sibuk menata gerobak dagangannya, seperti martabak, roti bakar, dan gorengan. Kadang aku berpapasan dengan pesepeda lain dan saling menyapa. Beberapa orang terlihat jogging menikmati hangatnya udara sore setelah hujan seharian.
Beberapa kali kutemui kumpulan anak sekolah sedang menunggu angkutan umum. Mereka mengobrol, bercanda, dan tertawa. Bahkan saat ada angkutan yang berhenti mereka tak menggubrisnya sampai ada cukup tempat untuk semua orang. Melihat mereka aku jadi kangen sekolahku dulu. Sekiranya aku bisa mampir mumpung hari belum terlalu sore. Ku kayuh sepedaku kuat-kuat.
Sampai di sana aku disambut gedung tiga lantainya yang berdiri gagah. Tak menggubris kedatanganku. Gedungnya yang disinari cahaya matahari sore menjulang sombong menghadap ke arah gunung sumbing seakan ingin membuktikan bahwa dia tak mau kalah dengan kegagahan gunung itu. Aku berjalan menuntun sepedaku di bawah naungan kegagahannya. Gedung bersejarah yang menyimpan berbagai kenangan.
Ku sandarkan sepedaku di sebuah tempat yang mirip tangga yang sangat lebar. Ku selonjorkan kakiku di lantai keramiknya yang berwarna hijau. Di depannya terdapat sepasang pohon Fellicium decipiens atau yang biasa disebut kiara payung. Sepasang pohon selebar pelukan orang dewasa yang mungkin sudah puluhan tahun berada disitu. Dahan-dahannya rindang meneduhkan. Cahaya matahari sore menyelinap diantara daun-daunnya yang lebat. Daun-daunya bergoyang tertiup angin, beberapa jatuh berputar-putar seperti baling-baling.
Beberapa anak, bertopi dan ber-nametag orientasi, lewat menyapaku. Aku tersenyum teringat pernah mengalami hal itu. Di bawah pohon ini juga dulu aku sering berkumpul dengan kawan-kawan. tak kenal waktu, kami mengobrol ngalor-ngidul mulai dari pelajaran, gosip, sampai mau jadi apa kita kelak. Di sini kita berdiskusi merencanakan sesuatu yang besar. Di sini pernah terjadi perpeloncoan, tapi lebih banyak kami menemukan keluarga. Di sini tempat kami berkeluh kesah. Di sini tempat kami menghindar dari kepenatan pelajaran. Di tempat ini kami berbagi senang, berbagi sedih. Di tempat ini kami jadi diri kami sendiri. Ada kemarahan tapi tak sedikit juga cinta tumbuh di sini.
Rasa rindu menghampiri diriku. Dalam deru angin sayup-sayup terdengar canda tawa kamu dulu. Tapi kini aku duduk sendiri di sini. Berteman langit senja yang menampilkan semburat warna jingga di balik kegagahan gunung sumbing. Aku beranjak dari tempatku duduk. Ku perhatikan sekeliling. Ingin ku rekam semua memori yang ada, memori yang pernah kita alami. Memori tentang kalian. Memori tentang dirimu. Kutatap sekali lagi sepasang pohon kiara payung yang selalu bersama selama berpuluh-puluh tahun. Juga gedung tiga lantai yang masih saja sombong. Banyak yang kenangan yang tertinggal di sini. Orang-orang datang dan pergi mengisi kehidupanku. Tapi kalian dan tempat ini selalu mendapat tempat istimewa dalam hatiku.
Aku memang masih disini. Tapi pasti akan segera pergi. Ku yakinkan diriku bahwa ini terakhir kali aku melihat ke belakang. Waktu terus berlalu. Hidup harus berjalan. Memang jalan yang kita lalui berbeda. Entah kemana jalan itu membawa kita pergi. Tapi suatu saat kita pasti akan bertemu kembali. Menyatukan janji dan mimpi yang pernah terikrar. Akan kutemui kalian di situ. Sampai jumpa kawan. Sampai bertemu lagi.
***
" Buk, aku utang sik ya?! "
" Hayo utang meneh! Yang kemaren udah dibayar belum? "
" Udah ni lho, Bu. Sekarang ndak bawa duit e, nanti istirahat ke dua tak bayar. Hahahaha. "
Semua orang di kantin memperhatikan dan tertawa geli. Sebenarnya percakapan yang sudah sering kami dengarkan, entah kenapa masih terdengar lucu. Tanganku masih memegang cangkir berisi kopi hitam tadi. Kupajamkan mataku lagi, merasakan cairan hitam itu memenuhi kerongkongan menuju lambung. Lalu kembali terdengar suara konstan hujan. Ku buka mataku dan aku sudah kembali lagi di sini, di rumahku. Gambaran-gambaran itu, canda tawa, botol air mineral, bau gorengan. Lenyap. Ku tatap cangkir yang mulai kosong itu. Tanganku bergetar. Hanya ada aku di sini.
***
Suhu udara yang dingin ini membuatku malas bergerak. Ku taruh cangkir kopi tadi di wastafel lalu melangkah malas menuju kamar. Hahhh. Ingin rasanya langsung berbaring lagi dengan selimut tebal. Tapi melihat kamar yang berantakan ku urungkan niatku. Mataku beralih ke meja belajar. Di sana bertumpuk buku-buku sisa perjuangan dan berbagai kertas soal. Nyamuk-nyamuk beterbangan saat ku angkat beberapa. Hmmm, sudah saatnya di rapikan.
Sebuah kardus besar kusiapkan untuk menaruh buku dan berbagai soal itu. Cukup sulit karena sebelumnya tidak pernah ku tata dengan rapi. Banyak buku dan kertas yang terselip di sela-sela lemari. Ku pisahkan antara buku dan kertas. Mataku tertuju pada sebuah map yang cukup tebal. Aku tersenyum. Isi map itu adalah tugas saat masa orientasi dulu. Berbagai tulisan essay tentang korsa dan lain-lain. Aku geli mengingat perjuangan menulis essay hingga larut malam tapi isinya hanya berputar-putar. Kiata juga disuruh membuat puisi dan gambar tentang kakak kelas. Betapa bodohnya kami dulu mau disuruh melakukan itu. Aku tertawa jika mengingatnya. Hahaha.
Kertas yang tidak terpakai aku buang. Buku tulis dan buku paket aku tata di dalam kardus. Melihat buku-buku itu teringat betapa gilanya kami saat di kelas.Gambaran gambaran berbagai kegilaan yang pernah dilakukan masa sekolah memenuhi pikiranku. Saat itu pelajaran kimia, guru kimia kami seorang bapak yang masih cukup muda, mungkin sekitar 30-an menuju 40, adalah orang yang sangat halus beliau tidak pernah marah, suaranya lembut tapi lebih sering membu at kami mengantuk daripada mendengarkan. Karena seelalu merasa mengantuk dan bosan kami lebih memilih melakukan kegiatan sambilan. Yang perempuan lebih memilih mengobrol dan bergosip. Yang laki-laki lebih ekstrem. Kami bermain game bola dan kartu poker.
Ampuh memang untuk menangkal kantuk akibat merdunya suara bapak guru. Tapi tentu saja insting seorang guru pasti tahu saat anak didiknya tidak memperhatikan. Dua orang temanku masih asik dengan pertandingan bolanya, pak guru berjalan menghampiri mereka. "Hayo jangan mainan dulu ya." kata pak guru sambil tersenyum. kedua temanku hanya cengengesan, teman-teman yang lain menahan geli. mereka berdua meletakkan stik kontrol. bapak guru pun kembali mengajar. Itu saja. Ya cuma begitu. Heran kami dengan kesabaran bapak guru itu, kami salut. Untuk menghargainya kami melanjutkan permainan. Hahahaha.
Itu hanya contoh dari berbagai perbuatan bodoh dan nekat. Tapi hal hal itulah mewarnai hidup sebagai anak sekolah, menyirami rasa kekeluargaan, menyiangi perbedaan, dan menumbuhkan akar-akar kesan yang sulit untuk di lupakan.
***
Pukul 15.08
Hujan sudah reda kini sinar matahari muncul mengisi celah-celah awan mendung yang tersisa. Cahayanya mengundang burung-burung keluar dari sarangnya menghangatkan tubuh setelah menahan dingin akibat hujan. Kicauan mereka menambah meriah sore ini. Mereka bernyanyi riang sambil minum di kubangan air yang masih menggenang. Ku buka pintu agar sinar matahari dapat masuk dan menghangatkan ruangan yang masih terasa dingin ini. Sinar mentari langsung menghangat kan jari-jari tangan dan kakiku yang terasa membeku karena jarang di gunakan. Ku hirup udara dari luar. Hmmm, terasa nyaman berada di bawah kehangatan sinar matahari sore ini. Ku ambil sepedaku, kuputuskan untuk bersepeda berkeliling sekalian menghangatkan badan.
Ku kayuh sepedaku. Meliuk-liuk menghindari kubangan air yang belum mengering sempurna. Jalanan yang masih sepi mebuatku mengayuh sepeda cukup cepat. Kangen rasanya walaupun masih tinggal di kota ini tapi terasa begitu lama sejak terakhir kali aku memperhatikan seluk-beluk kota kecil tempat lahirku ini. Sepanjang jalan para pedagang sibuk menata gerobak dagangannya, seperti martabak, roti bakar, dan gorengan. Kadang aku berpapasan dengan pesepeda lain dan saling menyapa. Beberapa orang terlihat jogging menikmati hangatnya udara sore setelah hujan seharian.
Beberapa kali kutemui kumpulan anak sekolah sedang menunggu angkutan umum. Mereka mengobrol, bercanda, dan tertawa. Bahkan saat ada angkutan yang berhenti mereka tak menggubrisnya sampai ada cukup tempat untuk semua orang. Melihat mereka aku jadi kangen sekolahku dulu. Sekiranya aku bisa mampir mumpung hari belum terlalu sore. Ku kayuh sepedaku kuat-kuat.
Sampai di sana aku disambut gedung tiga lantainya yang berdiri gagah. Tak menggubris kedatanganku. Gedungnya yang disinari cahaya matahari sore menjulang sombong menghadap ke arah gunung sumbing seakan ingin membuktikan bahwa dia tak mau kalah dengan kegagahan gunung itu. Aku berjalan menuntun sepedaku di bawah naungan kegagahannya. Gedung bersejarah yang menyimpan berbagai kenangan.
Ku sandarkan sepedaku di sebuah tempat yang mirip tangga yang sangat lebar. Ku selonjorkan kakiku di lantai keramiknya yang berwarna hijau. Di depannya terdapat sepasang pohon Fellicium decipiens atau yang biasa disebut kiara payung. Sepasang pohon selebar pelukan orang dewasa yang mungkin sudah puluhan tahun berada disitu. Dahan-dahannya rindang meneduhkan. Cahaya matahari sore menyelinap diantara daun-daunnya yang lebat. Daun-daunya bergoyang tertiup angin, beberapa jatuh berputar-putar seperti baling-baling.
Beberapa anak, bertopi dan ber-nametag orientasi, lewat menyapaku. Aku tersenyum teringat pernah mengalami hal itu. Di bawah pohon ini juga dulu aku sering berkumpul dengan kawan-kawan. tak kenal waktu, kami mengobrol ngalor-ngidul mulai dari pelajaran, gosip, sampai mau jadi apa kita kelak. Di sini kita berdiskusi merencanakan sesuatu yang besar. Di sini pernah terjadi perpeloncoan, tapi lebih banyak kami menemukan keluarga. Di sini tempat kami berkeluh kesah. Di sini tempat kami menghindar dari kepenatan pelajaran. Di tempat ini kami berbagi senang, berbagi sedih. Di tempat ini kami jadi diri kami sendiri. Ada kemarahan tapi tak sedikit juga cinta tumbuh di sini.
Rasa rindu menghampiri diriku. Dalam deru angin sayup-sayup terdengar canda tawa kamu dulu. Tapi kini aku duduk sendiri di sini. Berteman langit senja yang menampilkan semburat warna jingga di balik kegagahan gunung sumbing. Aku beranjak dari tempatku duduk. Ku perhatikan sekeliling. Ingin ku rekam semua memori yang ada, memori yang pernah kita alami. Memori tentang kalian. Memori tentang dirimu. Kutatap sekali lagi sepasang pohon kiara payung yang selalu bersama selama berpuluh-puluh tahun. Juga gedung tiga lantai yang masih saja sombong. Banyak yang kenangan yang tertinggal di sini. Orang-orang datang dan pergi mengisi kehidupanku. Tapi kalian dan tempat ini selalu mendapat tempat istimewa dalam hatiku.
Aku memang masih disini. Tapi pasti akan segera pergi. Ku yakinkan diriku bahwa ini terakhir kali aku melihat ke belakang. Waktu terus berlalu. Hidup harus berjalan. Memang jalan yang kita lalui berbeda. Entah kemana jalan itu membawa kita pergi. Tapi suatu saat kita pasti akan bertemu kembali. Menyatukan janji dan mimpi yang pernah terikrar. Akan kutemui kalian di situ. Sampai jumpa kawan. Sampai bertemu lagi.
***
