Rabu, 20 Agustus 2014

Kopi, Buku, dan Fellicium Decipiens

            Mataku mengerjap mencoba memfokuskan pandangan. Terdengar suara gemuruh dari arah atap yang terbuat dari asbes. Hujan. Hujan pertama di bulan Juli. Sedikit demi sedikit ku kumpulkan kesadaranku. Sambil duduk di pinggir kasur kulihat jam menunjukkan pukul 08.15. Awan mendung tidak menunjukkan hari sudah sesiang itu. Keluar dari kamar hanya terlihat Mak Dah, pembantu di rumahku. " Libur, Mas? " sapanya saat melihatku. Anggukan kepala kurasa cukup untuk mengiyakan pertanyaannya. Di luar jendela air tumpah ruah membuat beberapa genangan di jalan. Di depan rumah daun-daun pohon Averrhoa carambola mengangguk-angguk menikmati hujan yang sudah beberapa bulan tak dirasakannya. Udara dingin menyeruak masuk, udara yang sudah lama tak kurasakan dari kota ini. Polusi sudah membuat perubahan besar pada kota kecilku, Kota Magelang.


             Suara gemuruh hujan yang konstan dan udara dinginnya menghalauku terus menatapnya dari jendela. Sambil menahan dingin kuseduh secangkir kopi hitam. Aromanya yang kuat segera menusuk hidungku. Rasa hangat segera menjalari tubuhku. Ku pejamkan mataku menikmati sensasinya. Saat ku buka mata di depanku ada sebuah meja panjang dengan beberapa jajanan di atasnya. Di tembok yang baru saja dikeramik itu tersusun berbagai jenis botol air mineral. Bau makanan khas kantin sekolah seperti gorengan, cap cay, dan berbagai lauk pauk menyeruak. Senda gurau, ejekan tentang teman dan guru-guru, obrolan ngalor-ngidul menjadi backsound yang tak pernah dapat lepas dari suasana di sini. Yang perempuan gengsi untuk jajan nasi, diet katanya, tapi menenteng berbagai gorengan dan jajanan lain. Terdengar juga transaksi yang cukup alot dengan Ibu kantin.

" Buk, aku utang sik ya?! "

" Hayo utang meneh! Yang kemaren udah dibayar belum? "

" Udah ni lho, Bu. Sekarang ndak bawa duit e, nanti istirahat ke dua tak bayar. Hahahaha. "

               Semua orang di kantin memperhatikan dan tertawa geli. Sebenarnya percakapan yang sudah sering kami dengarkan, entah kenapa masih terdengar lucu. Tanganku masih memegang cangkir berisi kopi hitam tadi. Kupajamkan mataku lagi, merasakan cairan hitam itu memenuhi kerongkongan menuju lambung. Lalu kembali terdengar suara konstan hujan. Ku buka mataku dan aku sudah kembali lagi di sini, di rumahku.  Gambaran-gambaran itu, canda tawa, botol air mineral, bau gorengan. Lenyap. Ku tatap cangkir yang mulai kosong itu. Tanganku bergetar. Hanya ada aku di sini.

                                                                         ***
                 
                    Suhu udara yang dingin ini membuatku malas bergerak. Ku taruh cangkir kopi tadi di wastafel lalu melangkah malas menuju kamar. Hahhh. Ingin rasanya langsung berbaring lagi dengan selimut tebal. Tapi melihat kamar yang berantakan ku urungkan niatku. Mataku beralih ke meja belajar. Di sana bertumpuk buku-buku sisa perjuangan dan berbagai kertas soal. Nyamuk-nyamuk beterbangan saat ku angkat beberapa. Hmmm, sudah saatnya di rapikan.

             Sebuah kardus besar kusiapkan untuk menaruh buku dan berbagai soal itu. Cukup sulit karena sebelumnya tidak pernah ku tata dengan rapi. Banyak buku dan kertas yang terselip di sela-sela lemari. Ku pisahkan antara buku dan kertas. Mataku  tertuju pada sebuah map yang cukup tebal. Aku tersenyum. Isi map itu adalah tugas saat masa orientasi dulu. Berbagai tulisan essay tentang korsa dan lain-lain. Aku geli mengingat perjuangan menulis essay hingga larut malam tapi isinya hanya berputar-putar. Kiata juga disuruh membuat puisi dan gambar tentang kakak kelas. Betapa bodohnya kami dulu mau disuruh melakukan itu. Aku tertawa jika mengingatnya. Hahaha.

               Kertas yang tidak terpakai aku buang. Buku tulis dan buku paket aku tata di dalam kardus. Melihat buku-buku itu teringat betapa gilanya kami saat di kelas.Gambaran gambaran berbagai kegilaan yang pernah dilakukan masa sekolah memenuhi pikiranku. Saat itu pelajaran kimia, guru kimia kami seorang bapak yang masih cukup muda, mungkin sekitar 30-an menuju 40, adalah orang yang sangat halus beliau tidak pernah marah, suaranya lembut tapi lebih sering membu at kami mengantuk daripada mendengarkan. Karena seelalu merasa mengantuk dan bosan kami lebih memilih melakukan kegiatan sambilan. Yang perempuan lebih memilih mengobrol dan bergosip. Yang laki-laki lebih ekstrem. Kami bermain game bola dan kartu poker.

              Ampuh memang untuk menangkal kantuk akibat merdunya suara bapak guru. Tapi tentu saja insting seorang guru pasti tahu saat anak didiknya tidak memperhatikan. Dua orang temanku masih asik dengan pertandingan bolanya, pak guru berjalan menghampiri mereka. "Hayo jangan mainan dulu ya." kata pak guru sambil tersenyum. kedua temanku hanya cengengesan, teman-teman yang lain menahan geli. mereka berdua meletakkan stik kontrol. bapak guru pun kembali mengajar. Itu saja. Ya cuma begitu. Heran kami dengan kesabaran bapak guru itu, kami salut. Untuk menghargainya kami melanjutkan permainan. Hahahaha.
Itu hanya contoh dari berbagai perbuatan bodoh dan nekat. Tapi hal hal itulah mewarnai hidup sebagai anak sekolah, menyirami rasa kekeluargaan, menyiangi perbedaan, dan menumbuhkan akar-akar kesan yang sulit untuk di lupakan.

                                                                              ***
Pukul 15.08

           Hujan sudah reda kini sinar matahari muncul mengisi celah-celah awan mendung yang tersisa. Cahayanya mengundang burung-burung keluar dari sarangnya menghangatkan tubuh setelah menahan dingin akibat hujan. Kicauan mereka menambah meriah sore ini. Mereka bernyanyi riang sambil minum di kubangan air yang masih menggenang. Ku buka pintu agar sinar matahari dapat masuk dan menghangatkan ruangan yang masih terasa dingin ini. Sinar mentari langsung menghangat kan jari-jari tangan dan kakiku yang terasa membeku karena jarang di gunakan. Ku hirup udara dari luar. Hmmm, terasa nyaman berada di bawah kehangatan sinar matahari sore ini. Ku ambil sepedaku, kuputuskan untuk bersepeda berkeliling sekalian menghangatkan badan.

            Ku kayuh sepedaku. Meliuk-liuk menghindari kubangan air yang belum mengering sempurna. Jalanan yang masih sepi mebuatku mengayuh sepeda cukup cepat. Kangen rasanya walaupun masih tinggal di kota ini tapi terasa begitu lama sejak terakhir kali aku memperhatikan seluk-beluk kota kecil tempat lahirku ini. Sepanjang jalan para pedagang sibuk menata gerobak dagangannya, seperti martabak, roti bakar, dan gorengan. Kadang aku berpapasan dengan pesepeda lain dan saling menyapa. Beberapa orang terlihat jogging menikmati hangatnya udara sore setelah hujan seharian.

           Beberapa kali kutemui kumpulan anak sekolah sedang menunggu angkutan umum. Mereka mengobrol, bercanda, dan tertawa. Bahkan saat ada angkutan yang berhenti mereka tak menggubrisnya sampai ada cukup tempat untuk semua orang. Melihat mereka aku jadi kangen sekolahku dulu. Sekiranya aku bisa mampir mumpung hari belum terlalu sore. Ku kayuh sepedaku kuat-kuat.

           Sampai di sana aku disambut gedung tiga lantainya yang berdiri gagah. Tak menggubris kedatanganku. Gedungnya yang disinari cahaya matahari sore menjulang sombong menghadap ke arah gunung sumbing seakan ingin membuktikan bahwa dia tak mau kalah dengan kegagahan gunung itu. Aku berjalan menuntun sepedaku di bawah naungan kegagahannya. Gedung bersejarah yang menyimpan berbagai kenangan.

                    Ku sandarkan sepedaku di sebuah tempat yang mirip tangga yang sangat lebar. Ku selonjorkan kakiku di lantai keramiknya yang berwarna hijau. Di depannya terdapat sepasang pohon Fellicium decipiens atau yang biasa disebut kiara payung. Sepasang pohon selebar pelukan orang dewasa yang mungkin sudah puluhan tahun berada disitu. Dahan-dahannya rindang meneduhkan. Cahaya matahari sore menyelinap diantara daun-daunnya yang lebat. Daun-daunya bergoyang tertiup angin, beberapa jatuh berputar-putar seperti baling-baling.

               Beberapa anak, bertopi dan ber-nametag orientasi, lewat menyapaku. Aku tersenyum teringat pernah mengalami hal itu. Di bawah pohon ini juga dulu aku sering berkumpul dengan kawan-kawan. tak kenal waktu, kami mengobrol ngalor-ngidul mulai dari pelajaran, gosip, sampai mau jadi apa kita kelak. Di sini kita berdiskusi merencanakan sesuatu yang besar. Di sini pernah terjadi perpeloncoan, tapi lebih banyak kami menemukan keluarga. Di sini tempat kami berkeluh kesah. Di sini tempat kami menghindar dari kepenatan pelajaran. Di tempat ini kami berbagi senang, berbagi sedih. Di tempat ini kami jadi diri kami sendiri. Ada kemarahan tapi tak sedikit juga cinta tumbuh di sini.

                  Rasa rindu menghampiri diriku. Dalam deru angin sayup-sayup terdengar canda tawa kamu dulu. Tapi kini aku duduk sendiri di sini. Berteman langit senja yang menampilkan semburat warna jingga di balik kegagahan gunung sumbing. Aku beranjak dari tempatku duduk. Ku perhatikan sekeliling. Ingin ku rekam semua memori yang ada, memori yang pernah kita alami. Memori tentang kalian. Memori tentang dirimu. Kutatap sekali lagi sepasang pohon kiara payung yang selalu bersama selama berpuluh-puluh tahun. Juga gedung tiga lantai yang masih saja sombong. Banyak yang kenangan yang tertinggal di sini. Orang-orang datang dan pergi mengisi kehidupanku. Tapi kalian dan tempat ini selalu mendapat tempat istimewa dalam hatiku.

                Aku memang masih disini. Tapi pasti akan segera pergi. Ku yakinkan diriku bahwa ini terakhir kali aku melihat ke belakang. Waktu terus berlalu. Hidup harus berjalan. Memang jalan yang kita lalui berbeda. Entah kemana jalan itu membawa kita pergi. Tapi suatu saat kita pasti akan bertemu kembali. Menyatukan janji dan mimpi yang pernah terikrar. Akan kutemui kalian di situ. Sampai jumpa kawan. Sampai bertemu lagi.

                        ***








Jumat, 17 Mei 2013

Secangkir Kenangan

Assalamualaikum! 
Salam sejahtera bagi kita semua.

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita. Baik itu sedih, senang, atau menyebalkan. Tapi itu adalah kenangan-kenangan yang mungkin akan kita ingat sepanjang hidup kita, atau bahkan akan kita lupakan begitu saja. Kenangan-kenangan yang sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup kita. Cerita di bawah ini adalah sebuah kenangan yang banyak mempengaruhi hidup saya sampai saat ini. Semoga juga bermanfaat bagi kita semua. 

PARAGUE!


Pelan suara Bang Danis menasehati kami. Suaranya serak tertahan, matanya tak mampu menatap kami. Tapi Bang Danis tetap mencoba tegar, “Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah berusaha menampilkan semaksimal yang kalian bisa, kami yang di depan ini sudah bangga dengan penampilan kalian. Menurut kami kalian masih jadi yang terbaik.” . Deg! Hati kami miris, sebagian dari kami menangis, sebagian mencoba tabah namun air mata tetap mengalir deras. Ifa yang ada di belakangku menangis tersedu-sedu, bersandar di pundakku. Ulhaq yang mencoba tersenyum walau air matanya tetap keluar. Sementara aku. Dadaku sudah terasa sesak, mataku sembab, ingin rasanya aku keluarkan semua rasa kecewaku. Aku mencoba tersenyum. Tidak bisa! Akhirnya kugigit lidahku supaya tidak keluar semua rasa kesedihanku. 
            
        Kawan semua itu bermula saat kami mengikuti lomba TUB-BB tingkat Provinsi Jawa Tengah.  Sebelum berangkat Kepala Sekolah dan perwakilan dari Dispora melepas keberangkatan kami. “ Kami di sini berdoa semoga kalian diberi kesehatan, ketenangan,dan kekuatan untuk memberikan yang terbaik untuk sekolah ini pada khususnya dan untun Kota Magelang pada umumnya.” kata Pak Pandoyo, kepala sekolah kami. Kami tahu apa yang ditugaskan pada kami tidaklah ringan, banyak orang yang kami libatkan, dan kami tidak ingin semua orang yang terlibat merasa kecewa. Kata-kata itu membuat kami semangat menuju perlombaan.
            
            Bus yang mengantar kami ke Komplek Jati Diri-tempat kami berlomba-melaju cepat melawati jalan-jalan kota Semarang yang panas dan penuh sesak. Kami menghibur diri dengan menyanyikan lagu apa saja yang kami tahu. Saat melewati daerah Ambarawa kami meminta kernet bus untuk menyetel lagu Dewa 19 dari VCD  player di dashboard bus. Kami pun mulai ikut bernyanyi.
“Aku sedang ingin,bercinta karena mungkin ada kamu di sini aku ingin.”
            
            Kami sampai di Mess C Jati Diri pada pukul 11.30. Perbedaan suhu sudah kami rasakan sejak turun dari bus. Dalam beberapa menit saja keringat kami sudah bercucuran. Ditambah lagi kami menggunakan jaket tebal yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk menangkal hawa dingin. Dengan keringat yang mengucur deras penderitaan kami bertambah, kami harus menaiki jalan curam menuju mess tempat kami menginap dengan barang bawaan yang Masyaallah beratnya.
           
          Mess Jati Diri tidaklah se-mewah yang dibayangkan. Di sana kami hanya diberi jatah empat kamar. Padahal kontingen kami seluruhnya termasuk pelatih dan official ada 18 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Berarti 2 kamar untuk perempuan diisi masing-masing 4 dan 5 orang, sedangkan laki-laki harus berjejal-jejal dengan 9 orang dalam satu kamar. Karena tidak memungkinkan pelatih kami memutuskan untuk menyewa satu kamar lagi secara pribadi tentunya, sehingga satu kamar berisi masing-masing 7 orang, 6 orang, dan 4 orang pelatih dan pendamping, sisanya tidur dikarpet karena kuota sudah tidak meungkinkan. Lebih parah lagi tidak ada pendingin udara di mess kami. Jadilah kami tidur berdesak-desakan dengan setengah telanjang karena kepanasan. Jika dilihat dari jauh kami terlihat seperti udang yang sedang diasapi, mengkerut, memerah, dan mengeluarkan cairan-cairan keringat. Mengerikan.
         
         Biasanya acara makan adalah yang paling menyenangkan, tapi tidak untuk kali ini. Selain harus menjaga etika, kami terpaksa memakai jaket yang membuat kami kepanasan setengah mati, karena ada satu orang dari kami kaosnya yang seharusnya dipakai saat makan sudah basah tercampur baju kotor lain. “Ya sudah bagaimana lagi dari pada ada satu orang yang beda lebih baik kita pakai jaket semua.” kata Kak Ifha dengan yakin.
            
           Di ruang makan 2 tim kontingen lain sudah menyantap makan malam mereka di meja. Kami datang paling akhir dan yang lebih menyakitkan, kontingen lain memakai kaos oblong sekenanya sedangkan kami memakai jaket. Sungguh sangat sakit hatiku, kami harus berjibaku dengan panas demi menjaga kekompakan sementara yang lain makan dengan santainya. Saat makan pun keringat kami terus mengucur, bahkan keringatku sampai menetes di meja makan saking panasnya. Energi dari makanan yang aku santap tidak dapat aku rasakan karena langsung keluar lagi menjadi keringat. Hatiku kelu.
          
         Setelah makan kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan. Untuk menghilangkan bosan aku mecoba membuat lagu dengan lirik yang spontan saja keluar, dan hasilnya cukup lumayan. Kami menyanyi melam itu untuk menghilangkan stres dan rasa tegang menghadapi lomba esok hari. Begini kira-kira.
“Malam-malam di Jati Diri, cuaca panas nggak enak sekali
Mau mandi airnya mati, bikin hati ini jadi keki
Nggak boleh makan ini, nggak boleh makan itu
Ada ini itu banyak sekali, aduh laparnya perut ini
Dari pada bosan mendingan nyanyi”

***

            Hari ini adalah hari pertama lomba, dimana yang di lombakan adalah tata upacara bendera masing-masing sekolah. Kami mendapat nomor undi 1. Jantungku berdegub kencang. Kutarik nafas dalam-dalam lalu aku keluarkan, ku tarik nafas lagi lalu aku keluarkan lagi, begitu terus untuk menghilangkan rasa nervous. Kawan, walau sudah tiga kali mengalami hal yang sama demam panggung masih menyerangku. Tidak hanya aku, Fadel sedari tadi menanyaiku pertanyaan yang sama, “Nggar, kamu tahu menang kan?” dari pertanyaan itu aku tahu dia demam panggung. Alumni dan pelatih kami menasihati untuk tetap tenang. “Sudahlah, kalian pasti bisa. Yakin saja.” Kata Bang Jack.  “Tenang semua akan baik-baik saja.” Bang Danis menghibur kami.

            Nomor undi kami sudah di panggil. Kami bersiap-siap memasuki lapangan. “Pokoknya kalian tampilkan yang maksimal!” kata Pak Jai pelatih kami. “Tetap semangat, jika semangat kalian pasti bisa!” Pak Irul menambahkan. Kami memasuki lapangan,gemuruh tepuk tangan menyertai kami, membuat kami semakin bersemangat. Aku menjabat sebagai pengerek bendera. Aku berdiiri dengan tenang menunggu giliran, aku pikir aku sudah bisa menguasai demam panggungku. Ternyata salah. Sesaat sebelum pengibaran bendera, jantungku kembali berdegub kencang. Nervous menyerangku. Hampir saja aku tertinggal di langkah pertama, namun aku dapat menguasai diriku lagi.

            Singkat cerita kami bisa menampilkan semaksimal yang kami bisa. Pelatih,alumni, dan offocial cukup puas dengan apa yang kami tampilkan. Kami kembali ke mess dengan penuh rasa optimis, dapat menjadi juara di perlombaan ini. Sesampainya di mess kami melepas dan merapikan atribut lomba kami, karena besok akan kami gunakan kembali.
           
            Tak ada kegiatan lain setelah lomba hari pertama selesai. Kami mulai dilanda kebosanan. Tidak ada hiburan sama sekali. Yang ada hanyalah satu televisi di ruang makan, itupun digunakan oleh penjaga mess untuk berkaraoke ria dengan tetangganya. Kami tidak tahu harus kemana cuaca panas seperti memenjarakan kami, mengekang tubuh kami sehingga malas  bergerak. Belum lagi perut kami sudah keroncongan, padahal sekarang masih jam 10 pagi, dan waktu makan adalah jam setengah 1 siang. Perut kami serasa ditusuk-tusuk, ditambah panas yang membuat kami merasa hampir mati. Panas sekali. Berjejal-jejal di koridor mess, kami seperti korban bencana alam yang ada di pengungsian. Kesamaannya adalah sama-sama berdesak-desakan, baju minimalis, dan kelaparan. Akhirnya Mbak Avi memutuskan untuk menelpon Pizza Hut Delivery saking laparnya. Mbak Avi menekan nomor telpon lalu dari jauh sana terdengar seorang laki-laki, “Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?”. Akhirnya kami memesan 3 pizza ukuran sedang. “Terima kasih mbak. Kami antar dalam 45 menit.” kata laki-laki itu. Canggih dan elegan. Sangat sopan tapi juga meyakinkan. Dan untuk membuktikan itu, kami benar-benar menghitung 45 menit sampainya pizza.

***
           
            Malam harinya. “Gimana,Bos. Jadi PKTPKM-nya?” aku bertanya pada Bayu. PKTPKM adalah istilah militer yang digunakan untuk mengatur siasat di medan perang. Kepanjangannya adalah Pengamatan Keadaan Taktis dan Pengamatan Keadaan Medan. Tapi bagi kami diplelsetkan sebagai sarana untuk mencari biodata seorang perempuan dari kontingen lain dan berfoto bersama. Aku dan Bayu berdebat siapa yang harus mencari dan berfoto dahulu. Ada 4 orang dari kami yang ingin ikut PKTPKM, akhirnya kami melakukan hompimpa. Saat melakukan itu kontingen dari Surakarta memperhatikan kami. “Dasar orang-orang udik!” mungkin begitu isi pikiran mereka. Dalam hompimpa kami , tidak ada yang menang karena kami berempat terlalu grogi dan tidak dapat berkonsentrasi. Dan tetap belum ada yang mau memulai lebih dulu. Tiba-tiba, entah setan apa yang merasuki diriku. Aku memberanikan diri menjadi yang pertama. Aku dekati kontingen dari Surakarta. Aku nervous. Jantungku berdetak kencang. Tanganku yang memegang kertas gemetaran. Yang lebih parah, saking groginya, wajah perempuan kontingen Surakarta menjadi sama semua. Aku mematung. Salah seorang dari mereka bertanya,”Mau cari siapa, mas?”. Teman-temanku tertawa cekikikan di luar. Mereka tidak paham akan penderitaan sesungguhnya. Aku mengutuki diriku kenapa tadi mau menjadi yang pertama. Sekitar satu menit aku diam. Aku dekati seorang perempuan. Aku berhati-hati dalam memilih kata, karena sekelilingku adalah orang yang belum aku kenal. “Permisi,mbak. Saya Tinggar dari Magelang. Boleh saya tulis namanya?”. “ Eh, iya boleh. Tapi buat apa ya?”. Aku bingung. Pertanyaan itu sangat menjebak, masak aku menjawab untuk adu banyak mendapat biodata?. “Emm, minta aja mbak buat tambahan kenalan hehehe..”. Aku tulis namanya di kertas besar-besar, dia sempat heran. “Eh, buat apa ditulis segala?”. “Nanti mau di ambil gambarnya kok, ini untuk bukti.”. Di kertas itu tertulis, ‘ DITA  SOLO  16 th ‘ dan tandatangannya. Kami pun berfoto bersama. Ramai sekali orang-orang menyoraki kami seperti ada pengantin baru. Seteah itu, aku salami Dita, aku kembali berkumpul dengan pesaing-pesaingku. “Hahaha, bagus bro. Kamu sudah dapet satu.”. Yah, untuk sementara aku unggul dari yang lain.Kawan, jangan sekali-kali kau coba permainan ini.
                                                            ***

            Malami ini ada acara keakraban di GOR. Kami bertekad akan memanfaatkan momen itu sebaik-baiknya untuk PKTPKM kami. Sampai di sana kami diperintahkan untuk membentuk kelompok menurut bulan lahir. Aku lahir bulan Desember dan mendapat kelompok paling ujung. Aku satu kelompok dengan Ulhaq yang juga lahir bulan Desember. Aku cukup terkejut karena di kelompok ini ada perempuan kecil berjaket hitam yang aku kenal. “Eh,ada Mbak Dita.” kataku sambil tersenyum. Dita membalas senyumku. Dia mungkin masih malu dengan kelakuanku tadi. Di kelompokku ada yang berasal dari Cilacap, Solo, Brebes, dan Kendal. Dari Cilacap adalah dua pria mungil. Mereka sangat pendiam dan berbicara jika di perlukan. Dari Solo adalah tiga perempuan yang tak kalah mungilnya. Seperti kebanyakan wanita, jika menjadi satu pasti ada saja yang di omongkan. Dari Brebes seorang pria yang tingginya lebih tinggi sedikit dariku, dan dia juga pendiam. Dan yang terakhir dari Kendal. Mereka adalah orang-orang yang istimewa. Tubuh mereka tinggi dan berisi. Rata-rata tinggi mereka lebih dari 170 cm. Tapi sayang tubuh mereka tidak sesuai dengan cara bergerak dan berbicara. Hampir semua laki-laki dari Kendal berlagak ‘melambai’, kau tahu maksudku kan? Dan itulah yang membuat mereka istimewa. Acara diawali dengan berkenalan, dan aku tahu pria dari Kendal itu bernama Panji. Kami disuruh menulis lagu secara kelompok untuk mencoba kekompakan kami yang belum kenal lama. Setelah acara selesai kami dipersilakan kembali ke mess kami.
            Di mess kami diberi pengarahan untuk keadaan besok. Kami diperintahkan untuk tenang agar dapat berkonsentrasi. Dan akhirnya dengan langkah yang diseret kami masuk kamar dan tidur.

***
            Hari ini adalah hari penampilan terakhir, apa yang sudah kami latih selama 3 bulan akan kami habiskan semua di sini dalam 30 menit. Hanya itu waktu kami, bagaikan dua sisi koin. Kami bersiap-siap. Kami yakin. Yakin untuk dapat menampilkan yang terbaik. Dan benar saja, gemuruh penonton saat kami melakukan variasi. Semangat kami membahana. Kami tak melakukan satupun kesalahan fatal.
            
            Di luar, pelatih, pembina, official, dan pendamping menyalami dan memeluk kami. Mereka memberi kami ucapan selamat. Aku lihat Bayu menangis. Bukan karena kesalahan, tapi karena dia tahu ini hari terakhir kami dapat berkumpul bersama. Bu Puji menyampaikan rasa terima kasihnya pada kami. Beliau sangat terharu, sampai kata-katanya terputus karena menahan tangis. Kami disarankan untuk kembali ke mess untuk beristirahat. Kami berjalan dengan tenang, sudah tidak ada lagi beban, dan kami optimis untuk menghadapi pengumungan nanti.
            
         Sesaat sebelum pengumuman masing masing kontingen dipersilakan untuk menunjukkan bakatnya masing-masing. Kami memutuskan untuk menyanyikan lagu buatan kami sendiri  yang pernah aku ceritakan di atas. Kami adalah kontingen terheboh. Saat kontingen Kendal maju aku dan Bayu memimpin teman-teman untuk menyoraki mereka. “Mbak Lala..Mbak Lala..Kami di sini Mbak Lala..”. Lala adalah salah satu dari tim Kendal. Kami meneriakinya karena kami tahu wajahnya sangat cantik. Tidak ada kontingen lain yang menyaingi keramaian kontingen kami.
            
          Saat pengumuman tiba. Juri membacakan hasil keputusan lomba. Pembacaan hasil sempat diundur satu jam menjadi jam 2 siang. Juri membacakan petugas terbaik. Mulai dari pengatur sampai danton upacara kendal yang mendapat juara. Mereka hanya kehilangan pembaca doa dan protokol. Di mana pembaca doa didapatkan Ojhan dari kontingen kami dan protokol dari kontingen Solo. Kami khawatir. Semua anggota berdoa agar predikat juara satu tingkat provinsi yang diraih Magelang dua tahun lalu kembali terjadi. “Untuk juara 1. Dari ex-Karesidenan,”juri berhenti sejenak,”Semarang”. Kami diam di tempat. Shock. “Untuk juara 2. Dari ex-Karesidenan Pati”. Kawan-kawanku mulai menagis. Aku masih diam di tempat, mencoba untuk tersenyum. “Juara 3 ex-Karesidenan Brebes”
         
         Icha, Fadel, Ifa, Mbak Shinta menunduk. Mereka menangis sejadi-jadinya. Sementara sisanya mencoba bertahan untuk tidak menangis. Aku menggigit lidahku agar tidak keluar air mataku. Kelu. Orang-orang menghampiri kami. Pak Jai, Pak Irul, Bu Puji, Bang Danis, Bang Eba, official dan suporter mencoba menenangkan kami. Bahkan Ojhan pembaca doa terbaik tak mampu membendung air matanya saat Pak Jai mendekatinya.
            
          Itulah penyebab awal kisah ini kawan. “Kalian masih yang terbaik di mata kami, penonton, bahkan kontingen lain.” Bang Danis melanjutkan.”Jika kalian masih ingin menangis. Menangislah sekarang. Tapi kalian harus janji, habiskan air matamu untuk hari ini saja. Besok kalian sudah harus tegar kembali.” Mendengar perkataan Bang Danis, tak terasa air mata sudah berada di pelupuk mataku. Kugigit lagi lidahku, aku tak mau ada air mata yang keluar. Tak rela diriku meneteskan air mata setelah apa yang sudah kami perjuangkan. Yang aku tahu kami tidak kalah. Kami sudah berusaha sebaik-baiknya. Walau belum mencapai target, kami tahu perjuangan belum berakhir.
           
Tak ada lagi yang kami sesali karena kami tahu bahwa:
“Kita masih...BISA. Kita masih...BISA. SMANSA...PARA!”
        
Di sini menang di sana menang. Ku maju terus terjang rintangan. Tak perlu ragu ataupun bimbang. Yang penting menang, lihat kita sebagai pemenang. Tak peduli banyak saingan. Hanya kitalah yang layak menang. Haruslah menang!


Teruntuk sahabat, saudara, kakak-abang, pelatih, pembina, dan semua pihak yang ikut menyertai perjuangan kami. Maaf kami belum dapat memberikan yang terbaik. Yang dapat kami berikan hanyalah sebuah ucapan : Terima Kasih!

Selasa, 14 Mei 2013

Sekapur Kencur

Assalamualaikum!
Salam sejahtera bagi kita semua.

Alhamdulillah kita panjatkan atas rahmat dan hidayah Allah swt. yang senantiasa tercurah bagi kita. Pertama-tama saya perkenalkan diri saya yang dianugerahi nama Tinggar Pradipta. Saya buat blog ini sebagai tugas pelajaran TIK di sekolah saya SMA Negeri 1 Magelang. Sebagai pendatang saya mohon maaf jika masih banyak kekurangan pada blog ini dan mohon kerjasamanya.

Sekian dari saya, mohon maaf jika ada salah dalam penulisan.

Wassalamualaikum!